FORTIFIKASI ZAT BESI PADA PERMEN BELIMBING WULUH DENGAN METODE MIKROENKAPSULASI SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENGURANGI PREVALENSI ANEMIA GIZI BESI PADA ANAK-ANAK
FORTIFIKASI ZAT BESI PADA PERMEN BELIMBING WULUH DENGAN METODE MIKROENKAPSULASI SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENGURANGI PREVALENSI ANEMIA GIZI BESI PADA ANAK-ANAK
Sakinah Ulfiyanti1
1 Departemen Gizi Masyarakat, Institut Pertanian Bogor
ABSTRAK
Pemanfaatan belimbing wuluh sebagai bahan olahan permen dengan fortifikasi zat besi dapat menambah nilai ekonomis dan daya guna dari belimbing wuluh yang selama ini tidak termanfaatkan secara maksimal. Permen merupakan salah satu pangan yang digemari oleh anak-anak. Oleh karena itu, permen dianggap cocok menjadi salah satu produk yang difortifikasi dengan alasan fortifikasi pada makanan pokok sulit dikendalikan terkait asupan. Besi yang digunakan untuk fortifikasi adalah fero glukonat, karena penyerapannya (bioavailabilitas) lebih tinggi jika dibandingkan dengan besi jenis fero fumarat dan fero sulfat. Mikrokapsul yang terpilih untuk digunakan dalam pembuatan permen adalah 7,5% fero glukonat dengan kandungan besi 6,6 mg/gram mikrokapsul. Proses fortifikasi zat besi pada permen belimbing wuluh adalah ditambahkan konsentrasi besi sebanyak 5%, 10%, dan 20% dari AKG besi per hari pada anak-anak (10 mg) untuk setiap satu buah permen. Pemberian permen belimbing wuluh terfortifikasi pada anak-anak adalah permen dengan formula 3, yaitu adonan belimbing wuluh 10 gram dengan mikrokapsul besi 2,25 gram dan mengandung konsentrasi besi 15 gram. Sehingga dapat memenuhi 15% berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) atau setara dengan 1,5 mg. Angka Kecukupan Gizi pada anak adalah 10 mg/hari. Jadi permen belimbing wuluh dapat diberikan 1-2 kali sehari.
Kata Kunci: Fortifikasi, zat besi, permen, anemia, belimbing wuluh
DOWNLOAD FILE DISINI UNTUK FULL TEXT.
Komentar
Posting Komentar